Aku seperti menyesali beberapa keputusan penting yang telah aku ambil setahun lalu.
Namun, aku juga tak terlalu menyesal.
Aku masih memiliki banyak hal yang patut untuk aku syukuri.
Ya, tapi, berbohong pun aku tak bisa.
Aku rasa aku sedang goyah.
Tak tahu mau berjalan ke utara, timur, selatan, atau barat.
Banyak sekali orang-orang yang menganggapku mampu.
"Kau pasti jadi orang hebat!"
"Aku ingin jadi kayak kamu. Bisa segala hal!"
"Kamu pasti sukses!"
Ah, bawelnya.
Banyak sekali ekspektasi mereka.
Andai saja mereka lebih tahu:
Aku paling takut bertemu suasana baru.
Aku bisa kehilangan semangatku.
Apalagi percaya diriku.
Seringkali aku merasa tidak memiliki kebanggaan apapun.
Pada diriku pun, terkadang aku malu.
Dulu, aku kira aku akan berakhir sebagai seorang penulis.
Seorang yang gemar bercerita, menuangkan segala isi pikiran maupun hati, dengan bumbu-bumbu imajinasi.
Aku ingat, semangatku saat aku masih sekolah - aku ingin sekali menulis buku untuk Mama.
Aku ingin menulis buku untuk adik.
Untuk Papa juga.
Sekarang aku di sini bertahan saja.
Dengan harapan aku masih bisa melihat sinar mentari esok yang selalu menghangatkan.
Walau sebenarnya, Jakarta itu panas banget adanya.
Aku sedang belajar.
Belajar menerima diriku sendiri yang biasa-biasa saja.
Belajar bahwa aku itu cukup.
Belajar bahwa tidak semuanya harus aku kuasai.
Jalannya susah.
Aku pasti akan terjatuh.
Tapi aku akan membaca tulisan ini lagi dan lagi
untuk mengingatkan diriku sendiri
bahwa aku tidak perlu berponten 100/100.
Aku tidak perlu sempurna.
Karena kesempurnaan hanya milik-Nya,
dan juga tentunya Salma Hayek.