Feb 2015 - Sudah hampir dua minggu belakangan ini, gue dengerin Hanson.
Masih
inget Hanson, kan? Itu loh. Band adek-kakak yang bawain lagu ngehits
tahun 97an, MMMBop. Terakhir gue baca, si adek Zac anaknya baru satu.
Sekarang anaknya udah tiga. Bayangin. Tiga. Kemana aja gue selama ini?
Ya,
jadi... Hanson itu band yang isinya tiga Hanson bersaudara. Mungkin
kalo dibahasa-Indonesiakan namanya jadi Hanbers (Hanson Bersaudara)
saingannya Panbers (Pandjaitan Bersaudara) *apasih*. Hanson tiba-tiba
jadi mendadak terkenal saat lagu mereka "MMMBop" laris di pasaran.
MMMBop apa sih, masih inget gak? Nih kalo belum inget juga:
Hanson terdiri atas tiga bersaudara:
Kiri ke kanan: Isaac "Ike" Hanson, yang paling tua di band ini, menikah, anaknya tiga. Zachary "Zac" Hanson, yang paling muda di band ini, menikah, anaknya juga tiga. Yang terakhir Taylor Hanson, anak tengah, menikah, anaknya sudah lima. Buset. Mereka bertiga adalah tiga kakak tertua dari tujuh bersaudara. Banyak.
Ya itulah, Hanson. Inget dong, sekarang? Anak 90an pasti inget lah ya. Lagu ini kan ngehits banget. Lucu ya, mereka. Rambutnya masih panjang-panjang, cocok jadi model iklan shampoo & conditioner. Jujur ajasih rambut mereka lebih bagus dari rambut gue yang acak adul ini :( sampe-sampe gue kira dulu vokalisnya itu perempuan padahal mereka semua laki-laki HAHAHA.
Kiri ke kanan: Isaac "Ike" Hanson, yang paling tua di band ini, menikah, anaknya tiga. Zachary "Zac" Hanson, yang paling muda di band ini, menikah, anaknya juga tiga. Yang terakhir Taylor Hanson, anak tengah, menikah, anaknya sudah lima. Buset. Mereka bertiga adalah tiga kakak tertua dari tujuh bersaudara. Banyak.
Ya itulah, Hanson. Inget dong, sekarang? Anak 90an pasti inget lah ya. Lagu ini kan ngehits banget. Lucu ya, mereka. Rambutnya masih panjang-panjang, cocok jadi model iklan shampoo & conditioner. Jujur ajasih rambut mereka lebih bagus dari rambut gue yang acak adul ini :( sampe-sampe gue kira dulu vokalisnya itu perempuan padahal mereka semua laki-laki HAHAHA.
Oke.
Beberapa minggu yang lalu, gue sibuk keliling Facebook dan menemukan
kalo Hanson baru selesai tour di Australia tahun 2014 kemarin. Wow, I
missed a lot of things. Mereka meriliskan album baru, judulnya "Anthem"
dan gue penasaran seperti apa musik mereka sekarang. Of course, gue coba
dengerin albumnya disana-disini (maklum, belum mampu bayar2 di iTunes)
dan ngerasa mereka sudah jauh amat sangat lebih dewasa dibandingkan
tahun 1997. Ya iyalah. Nenek-nenek lagi ngunyah sirih juga tau, wong
udah 18 tahun semenjak MMMBop meledak :(
No,
I mean, maksud gue, mereka terdengar lebih mature dan lebih yakin
dengan musik mereka. Gue akuin gue gak terlalu tahu-menahu soal Hanson,
but I can assure you that they're one of the most talented people on
earth. Berkat kekepoan gue soal mereka, gue coba untuk cari lagi lebih
jauh soal Hanson. Gue inget, waktu itu pernah denger salah satu lagu
mereka di album yang mereka rilis tahun 2004, "Penny & Me". Gue
inget banget, lagu itu ngehits banget sampe diputer di radio-radio. Tapi
gue inget, yang gue denger ya hanya Penny & Me aja. Lalu
terbitlah rasa penasaran gue untuk cari tahu soal album itu. Gue coba
lihat-lihat di youtube soal apapun yang mereka lakukan di jaman sebelum
sosial media amat sangat ngetren kaya sekarang.
Apparently
they were struggling for three years. Ada film dokumenter yang diupload
per-episodnya di channel youtube Hanson, nama film itu adalah "Strong
Enough to Break". Dalam film dokumenter ini, diceritakan bagaimana
sulitnya Hanson menelurkan album mereka karena mereka terus menerus
berbeda pendapat dengan labelnya saat itu, Island Def Jam Records.
Bayangin, mereka digantungin nasibnya untuk bikin album atau enggak, dan
selama hampir tiga tahun (2000-2003) lagu-lagu yang mereka ciptakan
ditolak sama petinggi-petinggi label. Lebih dari 80 lagu. Ditolak.
Sampai akhirnya Hanson berultimatum sendiri bahwa kalo mereka tetep
nempel sama label itu, mereka ga akan bisa ngeluarin album yang mereka
mau. Akhirnya mereka meninggalkan label terkenal itu dan mereka akhirnya
berdiri secara independen sehingga mereka bisa lebih kreatif dalam
menggubah album yang mereka ingin rilis saat itu, bertitel "Underneath".
Setelah
gue tahu bagaimana sulitnya mereka merilis Underneath, gue ngerasa gue
harus cari album itu dan I was pretty sure it will be worth it. Turns
out I was amazed by it. Gue dengerin track-per-track, seluruh lagunya
penuh makna dan penuh dengan musikalitas yang gue gak bisa bandingin
dengan band pop/rock manapun. Gak kedengeran kayak band lain. Kan ada,
band-band yang terdengar mirip satu sama lain. Hanson, ya Hanson.
Terdengar sekali ciri khas vokal Taylor yang tipis merdu, dan vokal
Isaac yang terdengar lebih tebal, serta vokal Zac yang sangat tajam -in a
good way. The album sounds amazing, even better than I thought it would
be.
Hanson - Penny and Me (Live), 2013
Ya,
mungkin gue telat 11 tahun untuk dengerin Underneath. Tapi... Orang
bilang mendingan telat daripada nggak sama sekali. Waktu Hanson merilis
Underneath, usia gue masih 12 tahun dan rasanya saat itu gue gak terlalu
peduli dengan apapun yang gue dengerin, yang penting enak. Tapi karena
ingatan musik yang enak itu membekas di pikiran gue, gue follow up
dengan apapun yang dulu gue pernah dengerin, termasuk Hanson. Semua
diawali dari rasa penasaran gue dengan Penny & Me dan MMMBop.
Hanson - Get The Girl Back, 2013
Ya,
gue bisa bilang Underneath adalah salah satu album yang paling gue suka
sepanjang masa. Dan belakangan gue mengerti bahwa Underneath adalah
salah satu titik tolak dimana Hanson masih bisa berkarya dan berjaya
sampai sekarang. Mungkin kesuksesan mereka tidak seheboh dulu saat zaman
MMMBop... Tapi semua berubah. People change, everything changes. People
grew up, and their music grew up too.
Berapa
nilai gue untuk Underneath? Five stars out of five. It's one of the
most amazing, beautiful, wonderfully moving album I have ever heard in
my life. Ada satu pelajaran yang gue tarik dari karir Hanson beserta
album Underneath. If they're strong enough to break, why can't I? I am
strong enough to break. I can do what I want to do, and I can be who I
want to be.
Semoga tulisan ini menginspirasi kalian untuk mendengarkan Hanson, because they are worth your time to listen to.
Bonus: A Hanson Transformation


No comments:
Post a Comment