Saturday, December 14, 2019

Hanson

Feb 2015 - Sudah hampir dua minggu belakangan ini, gue dengerin Hanson.
Masih inget Hanson, kan? Itu loh. Band adek-kakak yang bawain lagu ngehits tahun 97an, MMMBop. Terakhir gue baca, si adek Zac anaknya baru satu. Sekarang anaknya udah tiga. Bayangin. Tiga. Kemana aja gue selama ini?


Ya, jadi... Hanson itu band yang isinya tiga Hanson bersaudara. Mungkin kalo dibahasa-Indonesiakan namanya jadi Hanbers (Hanson Bersaudara) saingannya Panbers (Pandjaitan Bersaudara) *apasih*. Hanson tiba-tiba jadi mendadak terkenal saat lagu mereka "MMMBop" laris di pasaran. MMMBop apa sih, masih inget gak? Nih kalo belum inget juga:




Hanson terdiri atas tiga bersaudara:


Kiri ke kanan: Isaac "Ike" Hanson, yang paling tua di band ini, menikah, anaknya tiga. Zachary "Zac" Hanson, yang paling muda di band ini, menikah, anaknya juga tiga. Yang terakhir Taylor Hanson, anak tengah, menikah, anaknya sudah lima. Buset. Mereka bertiga adalah tiga kakak tertua dari tujuh bersaudara. Banyak.

Ya itulah, Hanson. Inget dong, sekarang? Anak 90an pasti inget lah ya. Lagu ini kan ngehits banget. Lucu ya, mereka. Rambutnya masih panjang-panjang, cocok jadi model iklan shampoo & conditioner. Jujur ajasih rambut mereka lebih bagus dari rambut gue yang acak adul ini :( sampe-sampe gue kira dulu vokalisnya itu perempuan padahal mereka semua laki-laki HAHAHA.

Oke. Beberapa minggu yang lalu, gue sibuk keliling Facebook dan menemukan kalo Hanson baru selesai tour di Australia tahun 2014 kemarin. Wow, I missed a lot of things. Mereka meriliskan album baru, judulnya "Anthem" dan gue penasaran seperti apa musik mereka sekarang. Of course, gue coba dengerin albumnya disana-disini (maklum, belum mampu bayar2 di iTunes) dan ngerasa mereka sudah jauh amat sangat lebih dewasa dibandingkan tahun 1997. Ya iyalah. Nenek-nenek lagi ngunyah sirih juga tau, wong udah 18 tahun semenjak MMMBop meledak :(

No, I mean, maksud gue, mereka terdengar lebih mature dan lebih yakin dengan musik mereka. Gue akuin gue gak terlalu tahu-menahu soal Hanson, but I can assure you that they're one of the most talented people on earth. Berkat kekepoan gue soal mereka, gue coba untuk cari lagi lebih jauh soal Hanson. Gue inget, waktu itu pernah denger salah satu lagu mereka di album yang mereka rilis tahun 2004, "Penny & Me". Gue inget banget, lagu itu ngehits banget sampe diputer di radio-radio. Tapi gue inget, yang gue denger ya hanya Penny & Me aja. Lalu terbitlah rasa penasaran gue untuk cari tahu soal album itu. Gue coba lihat-lihat di youtube soal apapun yang mereka lakukan di jaman sebelum sosial media amat sangat ngetren kaya sekarang.

Apparently they were struggling for three years. Ada film dokumenter yang diupload per-episodnya di channel youtube Hanson, nama film itu adalah "Strong Enough to Break". Dalam film dokumenter ini, diceritakan bagaimana sulitnya Hanson menelurkan album mereka karena mereka terus menerus berbeda pendapat dengan labelnya saat itu, Island Def Jam Records. Bayangin, mereka digantungin nasibnya untuk bikin album atau enggak, dan selama hampir tiga tahun (2000-2003) lagu-lagu yang mereka ciptakan ditolak sama petinggi-petinggi label. Lebih dari 80 lagu. Ditolak. Sampai akhirnya Hanson berultimatum sendiri bahwa kalo mereka tetep nempel sama label itu, mereka ga akan bisa ngeluarin album yang mereka mau. Akhirnya mereka meninggalkan label terkenal itu dan mereka akhirnya berdiri secara independen sehingga mereka bisa lebih kreatif dalam menggubah album yang mereka ingin rilis saat itu, bertitel "Underneath".

Setelah gue tahu bagaimana sulitnya mereka merilis Underneath, gue ngerasa gue harus cari album itu dan I was pretty sure it will be worth it. Turns out I was amazed by it. Gue dengerin track-per-track, seluruh lagunya penuh makna dan penuh dengan musikalitas yang gue gak bisa bandingin dengan band pop/rock manapun. Gak kedengeran kayak band lain. Kan ada, band-band yang terdengar mirip satu sama lain. Hanson, ya Hanson. Terdengar sekali ciri khas vokal Taylor yang tipis merdu, dan vokal Isaac yang terdengar lebih tebal, serta vokal Zac yang sangat tajam -in a good way. The album sounds amazing, even better than I thought it would be.



Hanson - Penny and Me (Live), 2013

Ya, mungkin gue telat 11 tahun untuk dengerin Underneath. Tapi... Orang bilang mendingan telat daripada nggak sama sekali. Waktu Hanson merilis Underneath, usia gue masih 12 tahun dan rasanya saat itu gue gak terlalu peduli dengan apapun yang gue dengerin, yang penting enak. Tapi karena ingatan musik yang enak itu membekas di pikiran gue, gue follow up dengan apapun yang dulu gue pernah dengerin, termasuk Hanson. Semua diawali dari rasa penasaran gue dengan Penny & Me dan MMMBop.



Hanson - Get The Girl Back, 2013


Ya, gue bisa bilang Underneath adalah salah satu album yang paling gue suka sepanjang masa. Dan belakangan gue mengerti bahwa Underneath adalah salah satu titik tolak dimana Hanson masih bisa berkarya dan berjaya sampai sekarang. Mungkin kesuksesan mereka tidak seheboh dulu saat zaman MMMBop... Tapi semua berubah. People change, everything changes. People grew up, and their music grew up too.

Berapa nilai gue untuk Underneath? Five stars out of five. It's one of the most amazing, beautiful, wonderfully moving album I have ever heard in my life. Ada satu pelajaran yang gue tarik dari karir Hanson beserta album Underneath. If they're strong enough to break, why can't I? I am strong enough to break. I can do what I want to do, and I can be who I want to be.

Semoga tulisan ini menginspirasi kalian untuk mendengarkan Hanson, because they are worth your time to listen to.


Bonus: A Hanson Transformation


No comments:

Post a Comment

Sebuah Pengingat

Aku seperti menyesali beberapa keputusan penting yang telah aku ambil setahun lalu. Namun, aku juga tak terlalu menyesal. Aku masih memiliki...